Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 07 April 2018

Tafsir Ayat tentang Thaharah

0 komentar


Penafsiran Ayat tentang Thaharah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.(المائدة :6)
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu  dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit, atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur (Al-Maidah:6).
Telah dijelaskan oleh Al-Qurtuby dalam kitabnya Al-jami’ li-ahkami-l-Qur’an, bahwa ayat ini turun ketika ghazwah muraisi’, yang menjelaskan bahwa salah satu kesempurnaan dari nikmat Allah adalah tayammum. Diwajibkan kepada seluruh umat islam untuk bersuci dalam beberapa hal, diantaranya adalah berwudhu atau tayammum sebelum sholat dan mandi setelah melakukan junub. Ayat ini adalah termasuk ayat muhkam.
Asbabun Nuzul dari ayat tersebut adalah ketika Aisyah sedang dalam perjalanan pulang ke Madinah bersama Rasulullah. Di tengah perjalanannya (sekitar Al-Baida) kalungmya terjatuh, Aisyah yang dibantu Rasulullah mencarinya. Kemudian Rasulullah beristirahat (tidur) sejenak. Ketika terbangun, beliau ingin berwudhu, namun tak menemukan air. Akhirnya turunlah ayat tersebut sebagai perintah untuk bersuci (thaharah) dengan cara tayammum. Dalam penafsiran ayat ini, kata “sakit” maksudnya adalah sakit yang tidak boleh terkena air, jadi seseorang mengalami sakit ringan (yang masih boleh kena air) maka tayammum tidak diperbolehkan. Ada perbedaan interpretasi tentang maksud kata “menyentuh” dalam ayat tersebut. Menurut jumhur menyentuh adalah bersentuhan kulit, sedangkan menurut sebagian mufassir adalah bercampur sebagai suami istri.
Penulis berasumsi, yang dimaksud menyentuh adalah bercampur sebagai suami istri (menggauli). Jika ditelaah, dalam ibadah haji (thawaf), sangat kecil kemungkinan seseorang untuk tidak bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya, dan tidak diwajibkan pula untuk berwudhu lagi. Dalam potongan ayat ini (bagian akhir) dijelaskan pula hikmah thaharah ini, yakni agar umat islam bersyukur atas kemudahan, belas kasihan, rahmat, dan toleransi Allah kepada makhluknya. Seluruh umat muslim diwajibkan untuk bersuci ketika akan menghadap Rabb-nya. Selain thaharah membersihkan badan dari kotoran, thaharah juga dapat membuat hati dan jiwa tenang.


Al-Qurtuby, Abu Abdillah. Al-Jami’ li Ahkami-l-Qur’an: Juz 6, Kairo: Daarul Kitab, 1964.
Hatta, Ahmad. Tafsir Qur’an Per Kata, Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009.
http://www.ibnukatsironline.com.


0 komentar:

Posting Komentar

Jogjaku Istimewa

Jogjaku Istimewa Jogja? Ya, Kota Jogja atau Kota Yogyakarta sudah tak asing lagi di telinga kita. Di sinilah kami berjuang bersam...