Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 07 April 2018

Tafsir Ayat Shalat Khauf dan Qashar

0 komentar


Penafsiran Ayat Shalat Khauf dan Qashar (QS. An-Nisa: 101-103)
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (101) وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (102) فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (103)

A.    Asbabun Nuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ali berkata bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh sebuah kaum dari Bani Najjar, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami sedang dalam perjalanan untuk menuju ke sebuah tempat, dan bagaimana kami melaksanakan sholat?”. Kemudian Allah swt berfirman: Dan apabila kamu sekalian sedang dalam perjalanan, maka tidak berdosalah bagi kalian untuk menqashar sholat kalian. Wahyu ini pun terputus, dan beberapa saat setelah itu, dalam suatu ghazwah, Rasulullah melaksanakan sholat dhuhur. Kemudian para musyrikun berkata: “Rasulullah dan para sahabatnya telah melaksanakan sholat dhuhur, adakah yang menguatkan mereka?”. Salah seorang dari mereka (kaum musyrikin) pun berkata: “Apakah hal tersebut akan ada pengaruhnya bagi mereka?”. Kemudian Allah berfirman diantara kedua sholat tersebut (sholat qashar dan khauf) : jika kamu takut diserang orang-orang kafir, Allah berfirman: Sesungguhnya mereka adalah musuh yang nyata bagimu. (Ayat 101).
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Abbas: “kami bersama Rasulullah dalam perang ‘Ashfan, dan kami bertemu oleh para musyrikin”. Khalid bin Walid berada diantara mereka (umat muslim) dan kiblat mereka. Ketika itu Rasulullah hendak melaksanakan shalat dhuhur, lalu turunlah wahyu dari Jibril diantara shalat dhuhur dan shalat ashar: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata”. (ayat 102)
B.     Penafsiran dan Kandungan Ayat
Dan jika kamu sedang dalam perjalanan, maka tidaklah dosa bagimu untuk menqashar sholat yang empat rakaat. Apabila kalian takut akan fitnah orang-orang kafir kepada kalian, atau suatu pembunuhan, atau suatu peperangan, atau memotong perjalanan dikarenakan para musuh-musuh yang mengepung kalian, maka tidak berdosa untuk menqashar sholat. Kemudian apabila mereka (yang salat beserta kalian) telah ruku’ dan sujud (menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum melaksanakan sholat, lalu sholatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
C.     Munasabah Ayat
Allah telah menjelaskan dan menegaskan bahwa suatu sholat tidaklah menjadi gugur (tidak boleh meninggalkan sholat) dikarenakan dalam suatu perjalanan atau dalam keadaan jihad di jalan Allah (berperang). Ayat ini sebagai penetapan hukum syara’, yakni menqashar sholat ketika dalam perjalanan, dan mengerjakan sholat khauf dalam jihad di jalan Allah.
    Kajian hukum: Dalam suatu keadaan berjihad di jalan Allah, seperti perang, ada perampokan, dalam keadaan terancam, dan lain sebagainya maka seorang muslim tetap wajib mengerjakan sholat. Tetapi dibolehkan untuk melaksanakan sholat khauf dan menqasharnya (dalam sholat dhuhur dan ashar, maghrib dan isya). Begitupun ketika seorang dalam suatu perjalanan maka diperbolehkan untuk menqashar shalatnya.


Az-Zuhaili, Wahbah bin Mustofa. 1418 H. Tafsir Al-Munir fil ‘Aqidah wa As-Syari’ah wa Al-Manhaj. Beirut-Damaskus: Darul Fikri (dikutip dari Maktabah Syamilah)





0 komentar:

Posting Komentar

Jogjaku Istimewa

Jogjaku Istimewa Jogja? Ya, Kota Jogja atau Kota Yogyakarta sudah tak asing lagi di telinga kita. Di sinilah kami berjuang bersam...