Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 07 April 2018

Harum Namanya

0 komentar
RA Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, 17 September 1904 tepatnya ketika usianya 25 tahun. Ia adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasonal Indonesia. Kartini dikenal sebagai peloporemansipasi wanita. Ia berasal dari kalangan priyayi atau kels bangsawan. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Sosroningrat, seorang patih yang diangkat sebagai bupati Jepara segera setelah kelahiran Kartini. Ibunya bernama M.A Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Madirono.
Dari sisi ayahnya silisilah Karitini dapat dilacak hingga Hamengkubuwono VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat dilihat kembali ke Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di di Pangreh Praja. Raden Adjeng Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekadung, Kartini adalah anak perempuan yang tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondonegoro, yang diangkat menjadi bupati ketika usianya masih 25 tahun. Sedangkan kakaknya bernama, Sosrokartono adalah seorang yang mahir dalam urusan bahasa. Ketika itu, iadiperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi keika berunmur 25 tahun.
Ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman- teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku- buku, koran, majalah, dan majalah Eropa, Kartini ditarik pada kemajuan berfikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Pada tanggal 12 November 1903, Kartini disuruh menikah oleh orang tuanya, yaitu dengan Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Tetapi, suaminya sangatlah setia dan mengerti keinginan istrinya, maka Kartini sangat diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang. Kompleks kantor Kabupaten Rembang. Itulah awal mula Kartini dalam perjuangannya membentuk emansipasi wanita.
Kartini selalu mencetuskan perubahan bagi kebangkitan wanita Indonesia. Yang berharga darinya adalah karena 150 suratnya kepada J. H Abendanon dan istrinya, Rosa Manuela Mandiri. Dari surat- suratnya tampaknya Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan- catatan. Kadang- kadang ia menyebut suatu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak semata hanya soal emansipasi perempuan, tapi juga masalah soal umum. Ia melihat perjuangan seorang perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum darii sebagian bagian yang lebih luas.
Dari beberapa kalimat- kalimat dalam suratnya, terasa juga bahwa Rosa Abendanon telah memberi pengarh besar kepada pemikiran Kartini. Kepada Nyonya Abendanonlah Kartini dan adik- adiknya menumpahkan segala pemikiran, cita- cita, juga isi hatinya (termasuk penderitaaanya) lewat ratsan surat yang ditulis oleh tangannya sendiri. Saking sayangnya, Kartini kerap menyapa Rosa dengan sebutan “Ibuku Tercinta” atau “Kekasihku Tersayang”.
Tata bahasa Belandanya sangatlah bagus, hingga membuat beberapa pihak sempat meragukan bahwa itu surat bukan Kartinilah yang menulis sendiri. Namun, seiring perjalanan waktu dan berbagai investigasi terbukti bahwa surat- surat  tersebut memang asli ditulis oleh Kartini sendiri. Seperti The Diary of Frank, surat- surat Kartini ditulis kepada seorang sahabat yang layaknya ia sangat menghormatinya. Menurut Sastrawan pelopor Pujangga Baru, surat- surat Kartini dapat dibaca disebuah kehidupan perempuan.
Disamping Habis Gelap Terbitlah Terang, surat- surat Kartini muncul dalam bentuk lain. Pramoedya Ananta Toer, misalnya menulis buku Panggil Aku Kartini Saja. Sulastin Sutrisno, guru besar dari Universitas Gadjah Mada, selanjutnya menerjemahkan versi lengkap Door Duisternis Tot Lightyang diterbitkan dengan judul Surat- Surat Kartini pada 1979.
Terbitnya surat- surat Kartini, seorang perempuan pribumi sangatlah menarik perhatian Belanda, dan pemikiran- pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran- pemikiran yang tertuang dalam surat- suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh- tokoh kebangkitan nasional Indonesia.
Berkat keinginanya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di kota-kota tertentu, seperti di Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh Van Deventer, seorang tokoh politik etis. Hal lain yang menjadi sorotan utama Kartini adalah masalah pendidikan bagi kaum perempuan. Pada 25 Mei 1899 ia menulis “Kami, gadis- gadis masih terikat oleh adat- istiadat lama dan sedikit sekali memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran. Untuk keluar rumah sehari- hari dan mendapat pelajaran di sekolah saja sudah dianggap melanggar adat”.
Kartini juga menceritakan pengalamannya bahwasanya “Ketika saya berusia 12 tahun, saya dikurung didalam rumah, saya mesti masuk kurungan. Saya dikurung diri di dalam rumah seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar dari dunia itu lagi bila tidak disertai dengan seorang suami”. Ia mengirim surat kepada sahabat- sahabatnya agar anak perempuannya didik dan diajari layaknya anak laki- laki. Ia berkata pada sahabat- sahabatnya.
“Alangkah berbahagianya laki- laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak- anak saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat dan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki- klaki yaitu bila dia bukan orang yang picik pandangannya dan angkuh.Kami disini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan , bukan semata-mata kami hendak menjadikan anak perempuan sebagai saingan bagi laki- laki, melainkan karena kami yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang pada kaum perempuan hendak menjadikan perempuan itu lebih cakad dalam menjalankan kewajibannya”.
Tak ada yang lebih meyakinkan dan penuh semangat selain bunyi dua kalimat pertama dari surat Kartini yangdikirimkan untuk Stella. Parafrase “Aku hendak merebut Kemerdekaanku” dan “Aku tiada gentar karena keberatan dan kesukaran” seakan menjadi tiang pancang ke mana arah hidup dan perjuangan Kartii hendak dilabuhkan. Tapi petikan surat Kartini diatas juga tidak bulat menyatakan arah dan semangat. Disana ada semacam kesadaran, ihwal sebuah batas yang tak bisa begitu ditenggang. Jika batas itu ditenggang ia tahu akan kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi pertama hidupnya, Sang Bapak. Karena itulah ia bimbang. Masalahnya kebimbangan yang ada pada diri Kartini bukan  Cuma kecintaan yang datang pada ayahnya, juga situasi- situasi historis yang kerap (berhasil) memaksanya untuk tidak bbersedia dengan segala rencana yang telah dipancangkan sebelumnya.
Kartini juga pernah menyatakan kekesalannya terhadap metode pengajaran agama yang tidak membuka peluang untuk berdialog. Guru mengaji pada waktu itu umumnya menyampaikan ajaran agama secara indroktinatif. Maka, posisi Kartini adalah sebagai penerima informasi yang pasif. Gejolak jiwa Kartini untuk dapat memahami agamanya secara lebih baik, terpenuhi setelah bertemu dengan Kyai Saleh Darat, seorang Ulama kelahiran Kedungcumpleng, Mayong, Jepara.
Dari dialog pertamanya Kyai Saleh darat membaca kitab- kitab yang ditulisnya, ketika itu Kartini menemukan metode pemahamannya untuk meningkatkan pemahaman kandungan Al-Qur’an. Hasilnya, ia pun merasakan kedekatannya dengan Tuhan. Pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agamanya membawa perubahan pada jiwa Kartini, ia menjadi lebih sabar dalam menerima hambatan dan kegagalan yang merintangi perjuangannya
Kartini telah memberikan inspirasi terhadap banyak  perempuan di dunia. Perjuangan Kartini adalah perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia, terutama kaum perempuan, untuk bisa maju maju seperti laki- laki dalam berbagai bidang, khususnya mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan.  Ini adalah pperjuanga batin yang terjajah dari kungkungan adat dan budaya yang menempatkan perempuan di sudut kehidupannya. 
Ketika menanti kelahiran pertamanya, Kartini menulis bahwa ia telah menyiapkan sudut untuk bayinya kelak, tempat bayi itu tidur ketika Kartini mengajar. Dalam surat 6 Agustus 1904 itu  ia menulis “Sekarang ada sesuatu ala Hilda Van Suylenburg, seorang ibu yang pergi bekerja dengan bayi yang sedang menyusu”. Sepuluh hari sebelum meninggal, Kartini menulis surat tertanggal 7 September 1904 Surat itu berisi ucapan terimakasih terhadap Nyoya Abendanon atas baju yang dikirimkan untuk anaknya yang lahir. Ketika itu ia sedang hamil tua. Enam hari setelah itu ia melahirkan putranya.
Banyak orang yang mengira bahwa kematian Kartini karena pembunuhan, racun, guna- guna. Tapi pernyataan itu ditentang oleh suaminya. Soetijiso Tjoendronegoro berkata “Ibu Kartini sesudah melahirkan putranya, wafatnya tidak di desas-desuskan itu mungkin karena intrik Kabupaten. Tetapi desas- desus itu tidak dapat dibuktikan, dan kami pihak keluarga juga tidak mencari- cari ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanya dengan dan sudah dikehendaki oleh yang Maha Kuasa”.
Selama hidupnya Kartini dianugrahi anak semata wayangnya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat, yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Sejarah mencatat bahwa Kartini dan cita- citanya yang luhur itu diserang disegala penjuru, terang- terangan dan bukan oleh diam- diam. Dan bukan oleh lebah saja. 
Dalam kehidupan, kita harus berjuang layaknya Raden Ajeng Kartini. Ia tak takut akan tantangan. Kartini adalah figur seorang wanita yang idealis dan visioner. Dengan refleksi pemikirannya , kita dapat meneruskan perjuangannya untuk menganggkat harkat dan martabat kaum perempuan.
Setelah menyimak perjuangan Raden Ajeng Kartini hendaknya kita menerapkannya di kehidupan kita. Bawasanya untuk mencapai suatu kesuksesan, cita- cita, mimpi, angan, dan harapan harus dilakukan dengan kerja keras, doa, dan perjuangan yang hebat. Tak ada sesuatu yang instan. Sebagai generasi bangsa, kita harus terus menjaga harkat dan martabat perempuan agar tidak tercemari. Itulah perbedaan perjuangan di masa lalu dan masa kini. Masa lalu yang pejuangan belajar bagi wanita penuh penjajahan, sedangkan sekarang ini kita memperjuangkan hanya dengan rajin belajar dan tak patah semangat menggapai mimpi agar dapat menjadi generasi yang diharapkan bangsa.


0 komentar:

Posting Komentar

Jogjaku Istimewa

Jogjaku Istimewa Jogja? Ya, Kota Jogja atau Kota Yogyakarta sudah tak asing lagi di telinga kita. Di sinilah kami berjuang bersam...