Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 07 April 2018

Suara Hati Santri

0 komentar
Tatkala diri ini mulai berkata TIDAK, tapi raga ini menolaknya, hati ini terus memaksa, jantung ini mendetakkan langkahku, agar darah di nadiku mengalirkan kebaikan, dan lisan ini bergumam memaksa tersenyum, walau bibir ini memaksaku tuk diam, tanganku mulai merangkul dan mengajariku akan pentingnya kepemilikan.
 Kerja keras itu memang mengeluarkan banyak keringat, tapi tak ada seorangpun yang tenggelam dalam lautan keringat. Orientasi kehidupan, itulah yang dapat mengantarkanku pada kunci karun najah. Tak jarang aku jatuh dalam jurang, dan dirikulah yang memaksaku bangkit walau naas aku harus jatuh pada palung yang lebih dalam.
Terik sinar matahari terus membakar epidermisku tanpa bosan, tak terpekat di benakku akan perjuangan dan implikasi dari mereka. Walau nala kadang tak jua. Haus akan kasih sayang, tak ada keceriaan. Walau angin berhembus, karang di lautan tetap tegak berdiri. Aku termengu bertopang dagu, kerutan dahi, berharap akan datangnya malaikat kehidupan. Aku bukanlah rajawali, tapi ku kan berusaha menjadi merpati putih di cawan kehidupan. Dunia memang tak suram, dan mentari tak selamanya memancarkan cahayanya.
Terdesak haluan di benakku, akan gentingnya pilar- pilar hidup. Desah yang menapak, memberi goresan tinta di dunia. Aku terlahir dari buaian kaum Hawa, dan tumbuh dengan pondasi yang kokoh. Gelombang lautan, hertakan dan militer cobaan menjadikan batu karang kegigihan agar tegap dan tak goyah. Tak kupunyai beribu element yang memberikan bibit- bibit kesuksesan. Namun, partikel kepercayaan akan selalu ku penjara dalam jerui- jeruji seperti keperawanan ini yang ku peluk erat.
Qolbu yang rentan akan gencatan. Awan putih bertebaran, mengusik hangatnya nur syamsi. Bak mentari indah menawan. Batu yang akan ku ukir dadi diary kehidupan. Gejolak api yang membara, membakar hati yang tara. Ku hadapi kerikil kehidupan walau arah tak menentu. Terimakasih, telah mewarnai dalam problema hidupku. Entah seberapa jauh jejak kaki ini merantaui peta pergaulan. Ribuan daun- daun harapan gugur, tapi berjuta akar kesempatan tumbuh kembali. Hari ini matahari memenuhi janjinya, tuk terbit di ufuk timur, kabut gelap menyelimuti fajar, dan tetesan embun jatuh membasahi tanah muqoddasah.
Tapi tidak dengan diriku, dunia bagai langit tak berbintang, helaian daun melambai, memberi isyarat bahwa mereka akan meninggalkan. Kerikil di setapak jalan seakan berteriak menguatkanku tuk tegar, ikan- ikan di sungai memaksa agar ku merekahkan bibirku. Setangkai bunga mawar pun berharap untuk ku peluk walu duri itu menyakitiku. Tubuh ini terasa rentan, nadiku terhenti sesaat. Gemuruh petir menyambarku. Daku tak kuasa atasnya. Walaupun jarak menghadang, kita masih berjuang d langit yang sama kawan. Good luck...

0 komentar:

Posting Komentar

Jogjaku Istimewa

Jogjaku Istimewa Jogja? Ya, Kota Jogja atau Kota Yogyakarta sudah tak asing lagi di telinga kita. Di sinilah kami berjuang bersam...