A.
Pendahuluan
Di era
globalisasi ini, tantangan budaya lokal bukan hanya pelestariannya saja,
melainkan harus dilakukan secara komprehensif. Adanya akulturasi keagamaan
dalam sebuah budaya dan tradisi memberikan implikasi yang luar biasa pada
masyarakat dalam sebuah lingkungan. Berbagai aspek kebudayaan dan aneka warna
tradisi menjadikan tolak ukur dan sumbangsi kekayaan sumber daya manusia di
Indonesia. Perbedaan suku, budaya, dan tradisi memberi corak dalam
mempersatukan bangsa Indonesia, seperti semboyan yang mengatakan “Bhineka
Tunggal Ika”. Dan betapa uniknya jika suatu budaya dan tradisi dipadukan
dengan nilai spriritualnya, salah satunya adalah dengan agama Islam.
Masuknya agama
Islam ke Indonesia tidak sekaligus, melainkan secara bertahap. Indonesia
termasuk negara yang bersifat plural, seiring berkembangnya zaman kepercayaan
mengenai teologi pun lebih dipertimbangkan secara rasional. Contohnya saja di
daerah Jawa Barat, agama Islam hadir di tengah kepercayaan masyarakatnya yang
masih beragama Hindu dan Budha. Islam adalah agama termuda jika dibangdingkan
dengan agama Hindu, Budha, dan Kristen. Namun, seiring berkembangnya ajaran
Islam, mayoritas penduduk di Jawa Barat yang memeluk agama Islam kini mencapai
sekitar 97%. Akulturasi budaya dan tradisi pun sangat mempengaruhi masyarakat
di Jawa Barat khususnya.
B.
Pembahasan
B.1. Penyebaran Islam di Jawa Barat
Islam datang ke
Jawa Barat melalui dua pelabuhan utama yang kemudian berkembang menjadi dua
kerajaan, yaitu Cirebon dan Banten yang mana kerajaan tersebut menyebarkan
Islam menyebar ke Selatan hingga pedalaman Jawa Barat. Di daerah Banten,
masyarakat Baduy masih menganut agama Hindu dan elemen- elemen asli Asia
Tenggara. Keadaan masyarakat di daerah Sumedang pun belum dimsuki pengaruh
Islam. Penduduk pedesaan di daerah tersebut umumnya beragama Islam dan masih
mempunyai kepercayaan sinkretis dan ada yang menyebutnya “Traditional Muslim”.
Gelombang reformasi Islam yang dipelopori oleh Muhammad Abduh dan Djamaluddin
Al- Afghani di Mesir, lalu pada pada tahun 1912 berdirilah organisasi
Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Kemudian pada tahun 1923
lahirlah Persatuan Islam (Persis), dari disinilah agama Islam mulai meyebar di
penjuru Jawa Barat.[1]
Kepercayaan
asli masyarakat Jawa Barat (orang sunda) sulit tuk diidentifisir, karena hanya
ada beberapa faktor yang menyebabkan pengaruh Islam masuk ke Jawa Barat.
Diantaranya adalah dalan legenda Prabu Siliwangi dan Lutung Kasarung. Terdapat
pula suatu legenda yang mengisahkan tentang tumbuhnya padi, kelapa, enau, dan
tanaman lainnya diatas makam putrid cantik dari Batara Dewa. Kisah ini sangat
menarik masyarakat Jawa Barat dan dari sini diketahuilah adanya ajaran Islam
yaitu penguburan mayat. Terlepas dari itu semua, Ahmad Surjadi menjelaskan
bahwa belum ada formula yang tegas dalam kepercayaan orang Sunda.[2]
B.2. Beberapa Budaya dan Tradisi di
Ciamis
Ciamis
merupakan sebuah kabupaten yang terletk di provinsi Jawa Barat dan memiliki ibu
kota bernama Ciamis kota. Ciamis merupakan kota yang padat penduduknya, setiap
tahun populasi penduduk Ciamis mencapai 1.768.532 jiwa. Salah satu wisata
budaya yang disajikan dari kabupaten Ciamis adalah Wayang Ajen. Dalam budaya
ini, Wayang Ajen mengkolaborasikan antara wayang golek, multimedia dan
komposisi musik dan seni lainnya. Lakon dari tradisi Wayang Ajen ini juga
memberikan nilai spiritual yang dapat menyentuh hati nurani para penontonnya. [3]
Budaya dan
tradisi Ciamis mempunyai segudang daya tarik. Sebagian dari budaya Ciamis telah
dimusiumkan melalui bentuk wisata, contohnya seperti wisata Situ Lengkong yang
terdapat di daerah Panjalu, Ciung Wanara di desa Karangkamulyan, Kampung Kuta
di daerah Tambaksari. Munculnya wisata- wisata tersebut adalah hasil dari
budaya dan tradisi pada masa kerajaan- kerajaan di masa lampau. Curug Tujuh
Cibolang, Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, dan lain sebagainya juga menjadi
bagian keindahan disamping budaya tradisi yang ada di daerah Ciamis.
Selain tempat
wisata, adapula jenis- jenis makanan sunda yang bernilai keislaman, yang
diantaranya adalah :
1.
Apem
Makanan
ini terbuat daribahan dasar tepung beras, tape singkong atau tape nasi. Makanan
ini diambil dari bahasa Arab, yaitu afwan yang berarti maaf yang bertujuan agar
para peminatnya selalu ingat dengan tradisi maaf dan mudah memaafkan kesalahan
orang lain.
2.
Mustopa
Mustopa
adalah sambal goreng kentang yang diolah menggunakan bumbu racikan khas Ciamis.
Nama ini diambil dari sebutan Rasulullah yaitu Nabi Muhammad S.A.W untuk
mengenang ajarannya yang menunjukan kepada jalan yang benar.[4]
3.
Nasi tumpeng dan leupeut dalam Metik
Metik
dalam bahasa Sunda diambil dari kata memetik. Maksudnya adalah memetik buah
kopi yang dipanen. Dalam tradisi ini orang yang tertua dalam keluarga memimpin
doa agar hasil panen berikutnya lebih baik dari sebelumnya. Tradisi ini ditutup
dengan makan nasi tumpeng bersama dengan maksud berbagi agar meumbuhkan sifat
dermawan dan untuk mempererat tali persaudaraan. Adapula beberapa makanan lain
seperti leupeut yang diambil dari bahasa Sunda yaitu lepat yang berarti salah,
maksudnya adalah agar selalu mensucikan diri dari kesalahan.[5]
4.
Bubur merah dan bubur putih
Bubur
bereum (merah) dan bubur bodas (putih), biasanya dihidangkan dalam acara- acara
tertentu. Misalnya ketika pemberian nama bayi atau mengganti nama seseorang,
perayaan 10 Muharram, ataupun ketika mendirikan rumah.
Dalam
acara pemberian nama bayi, kedua bubur ini menjadi simbolik agar sang bayi
memiliki keseimbangan dengan warna merah yang berarti keberanian (dalam
menyatakan kebenaran) dan warna putih yang berarti kesucian (melaksanakan
pernikahan kelak dengan benar dan mencintai orang- orang yang lemah.
Dalam
memperingati hari Assyura (10 Muharram), kedua bubur ini sebagai bukti napak
tilas dari peristiwa wafatnya Sayyidina Husein (cucu Nabi Muhammad) di Padang
Karbala. Warna merah pada bubur melambangkan keberanian dan darah
perjuangannya, dan warna putih melambangkan kesucian dan kebenaran dalam
membela kebenaran.
Selain
itu, ketika membangun rumah dalam tradisinya masyarakat Sunda kerap membagikan
bubur merah dan putih dalam tetangga sebagai rasa syukur kepada Allah atas
nikmat yang dikaruniai berupa kemampuan untuk mendirikan rumah. Warna merah
menyimbolkan pendidikan pada tanah air (merah berarti tanah, dan putih berarti
air). Maksudnya disini adalah melakukan pembelaan pada tanah air.[6]
Di daerah
Ciamis, Jawa Barat kaya akan budaya dan tradisi beragam upacara adat, mulai
dari seseorang masih dalam kandungan hingga setelah kematian. Tradisi upacara
tersebut dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.
Upacara adat sebelum lahir, yang meliputi upacara Hajat, Tingkeban,
dan Hajat bubur lolos.
2.
Upacara adat selama hidup, yang meliputi upacara Kelahiran, Mahinum
(40 hari usia bayi), Khitanan, Bancakan, Pertunangan, dan Perkawinan.
3.
Upacara kematian, yang meliputi upacara Nyusur Tanah, Tiluna,
Tujuhna, Matang Puluh, Natus, Mendak Taun, dan Newu.[7]
Dalam bahasa Sunda banyak diambil cerita- cerita Islam yang
disalurkan mealui seni pantun (wawacan) dan wayang golek. Dalam seni wayang
golek biasanya diisi dengan cerita pantun , yang mana diambil dari cerita
pahlawan atau tokoh-tooh nenek moyang Sunda. Pantun sunda atau wawacan ini
adalah sebuah cerita yang berbentuk puisi dan biasanya dibacanya dalam bentuk
nyanyian. Wawacan yang paling terkenal adalah wawacan Rengganis dan wawacan
Purnama Alam. Bahasa Sunda adalah identitas kesundaan, dan cirri kepribadian
orang Sunda yang lain adalah bahwa mereka sangat mencintai dan menghayati
keseniannya. Dari bahasa dan keseniannya, dan dari sifat kesehariannya orang
Sunda dikenal dengan tipe orang yang optimis, suka dan mudah bergembira, dan
memiliki sifat terbuka.[8]
Diantara kesenian dan budaya dari Ciamis yang lain adalah :
1.
Alat musik angklung
Angklung merupakan sebuah alat music
tradisiobal yang terbuat dari bambu. Angklung yang tertua bernama angklung
gubrag, yang dibuat di daerah Bogor. Angklung terbagi menjadi beberapa jenis,
diantaranya adalah angklung kanekes, angklung dodog lonjor, dan angklung
gubrag. Biasanya permainan alat musik angklung ini dipakai ketika para petani menanam pagi
sebagai bentuk usaha dan berserah diri atas padi nya kepada-Nya.
2.
Pertunjukkan Buncis
Buncis
merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan. Hampir sama dengan angklung,
pertunjukan ini diadakan ketika menanam padi. Hiburan ini sebagai bentuk
hiburan setelah ditiadakannya ritual padi pada zaman dahulu untuk mempererat
silaturahmi antar petani.
3.
Wayang Golek
Wayang
golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita pewayangan yang di dalamya
terdapat unsure- unsure dakwah atau kisah tokoh- tokoh nenek moyang sunda yang
dapat diteladani. Lazimnya wayang golek digelar dari malam sampai dini akhir.
4.
Seni Tari
Salah
satu seni tari di kabupaten Ciamis, Jawa Barat adalah tari jaipong. Tari ini
merupakan identitas daerah yang digunakan untuk menghibur tamu asing yang
dating sebagai bentuk penyambutan. Tari ini memberi nilai keagamaan diantaranya
adalah memuliakan tamu dengan memberikan suatu hiburan yang baik.
5.
Seni Bela Diri
Kesenian
bela diri ini lebih dikenal dengan sebutan Tarung Drajat. Olah raga ini
diciptakan oleh putra bangsa Indonesia, yaitu Sang Guru, nama aslinya adalah
Drs.H. Ahmad Drajat. Latar belakang seni ini diambil dari pengalaman hidup Sang
Guru. Sejak kecil ia sering terlibat aksi kekerasan fisik, penganiayaan,
pemerasan, perkelahian dan penghinaan. Oleh sebab itulah, Sang Guru berlatih
untuk membela diri dan menyalurkan ilmunya pada masyarakat sekitar.[9]
B.3. Akulturasi Islam dalam Tradisi
Upacara Ekah di Ciamis
Upacara Ekah di
Ciamis adalah upacara sebagai bentuk rasa syukur kedua orangtua atas putra dan
putri yang dikaruniai oleh Tuhan dan sebagai harapan agar kelak anak itu dapat
menjadi anak shaleh dan dapat menolong kedua orang tuanya di alam akhirat.
Namun di daerah Kuningan acara ini lebih dikenal dengan acara muputan.
Sebenarnya kata ekah berasal dari kata Aqiqah yang diambil dari bahasa Arab,
yaitu “syaqiq atau syaqiqoh” yang artinya adalah anak kandung. Dalam acara ini,
pihak yang dikaruniai anak harus berkurban dengan menyembih dua ekor domba
(jika ank laki- laki) dan seekor domba (jika anak perempuan), kemudian daging
domba tersebut dibagi pada tetangga dan masyarakat sekitar.[10]
Menurut salah
satu warga Ciejeungjing di Kabupaten Ciamis, Uus Usman, acara ini diselenggarakan
setelah bayi berusia 7 hari atau boleh lebih (lebih diutamakan ketika keluarga
besar sang bayi berkumpul). Tradisi upacara Ekah ini berlangsung biasanya di
halaman rumah sang ibu bayi, tujuannya adalah untuk membersihkan alat kelamin
sang ibu dan menjaga kesehatannya setelah persalinan. Urutan atau system dari
tradisi ini adalah:
1.
Pembuatan tungku atau hawu (sejenis kompor dari bata yang disusun)
kemudian ditengahnya diberi beberapa bambu yang dibakar.
2.
Setelah batu bata terbakar dan berasap, batu tersebut dimasukkan ke
dalam baskom yang berisi air.
3.
Kemudian sang ibu berdiri dengan menggunakan sarung agar
asap dari batu bata yang dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air tersebut
masuk ke sarung yang dipakainya. Asap tersebut dapat membersihkan dan menjaga
kesehatan alat kelamin sang ibu setelah persalinan.
Tradisi upacara
Ekah ini berlangsung biasanya di halaman rumah sang ibu bayi, tujuannya adalah
untuk membersihkan alat kelamin sang ibu dan menjaga kesehatannya setelah
persalinan. Dari tradisi upacara Islam ini terdapat nilai keislamannya, yaitu
untuk menjaga kebersihan diri sendiri, karena kebersihan adalah sebagian dari
iman. Dengan kebersihan maka diri akan lebih terasa nyaman.
C.
Kesimpulan
Ciamis tak
terlepas dari perkembangan Islam pada zaman dahulu, jadi tak heran jika banyak
budaya dan tradisi yang sangat relevan dengan agama Islam. Keindahan dan
keunikan berbagai budaya dan tradisi tersebut menjadi substansi dan sumbangsi
bagi Indonesia. Salah satu gelombang reformasi Islam dengan lahirnya Persis di
Bandung berkembang cukup baik. Adanya akulturasi kebudayaan sangat memberikan
implikasi yang besar pada masyarakat Ciamis yang awalnya dalam kepercayaan
Hindu dan Budha. Dari bahasa dan keseniannya, dan dari sifat kesehariannya
orang Sunda dikenal dengan tipe orang yang optimis, suka dan mudah bergembira,
serta memiliki sifat terbuka. Dipadukan dengan budaya, tradisi dan keislaman
yang diestafetkan dari para leluhur yang sangat berpengaruh pada penyebaran
agama Islam akan menjadikan agam Islam lebih mendunia.
[2] Ibid hlm.150-151
[3] http://www.liputan6.com
[4] Masduki, Aam, Makanan
Tradisional di Kabupaten Ciamis,( Patanjala Vol.4 No.2, 2012), hlm.90 dan
92
[5] http://www.bangkuliah.com
[6] http://www.dadanrusmana.com
[7] Ibid hlm.192
[8]Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan
Kebudayaan di Indonesia, ( Jakarta:
Djambatan, 2004), hlm.309
0 komentar:
Posting Komentar